Mitos di Balik Lepet, Jajanan Gurih yang Banyak Diburu saat Momen Syawalan

- Kamis, 20 Mei 2021 | 17:40 WIB
Lepet menjadi salah satu sajian khas yang ada saat momen Syawalan (ayosemarang.com/Vedyana)
Lepet menjadi salah satu sajian khas yang ada saat momen Syawalan (ayosemarang.com/Vedyana)

SEMARANG, AYOBATANG.COM -- Selain ketupat, lepet juga kerap menjadi sajian yang ada saat merayakan Syawalan.

Lepet merupakan jajanan yang terbuat dari campuran beras ketan bercitarasa gurih.

Dalam budaya Jawa, lepet dimaknai sebagai singkatan dari ‘disilep sing rapet’ yang artinya disimpan dengan rapat.

Maknanya adalah, agar saling memaafkan dengan ikhlas dan menutup rapat kesalahan di masa lalu untuk tidak diungkit dan diulang lagi. Adapun jelang Syawalan, jajanan tradisional ini banyak diburu pembeli.

Salah satu penjual Lepet di Pasar Peterongan, Novi mengaku, di momen Syawalan, dirinya mampu menjual Lepet kurang lebih 200 biji setiap harinya.

"Lepet ini kan nggak setiap hari ada mas. Tapi pas momen Syawalan kayak gini banyak yang jual di sini. Yang beli juga banyak," ujarnya kepada ayosemarang.com, Kamis 20 Mei 2021.

Novi menambahkan, dirinya membandrol satu ikat kecil berisi 5 buah Lepet dengan harga Rp 20 ribu. Menurutnya harga tersebut relatif murah mengingat proses pembuatan Lepet yang membutuhkan waktu lama.

"Proses buatnya lama mas, kurang lebih 3 jam. Harganya semang segitu. Tapi jelang Syawalan kemaring harganya bisa sampai Rp 35 ribu satu ikat kecil isi 5 Lepet seperti ini," katanya.

Ternyata, Lepet memiliki mitos tersendiri. Seorang pedagang lontong dan ketupat di Pasar Karang Ayu Semarang, Sri Kusmiyati menjelaskan, jika di masa lampau, masyarakat memiliki banyak pemaknaan terhadap Syawalan.

Menurutnya, Lebaran Ketupat punya arti khusus bagi seseorang yang anaknya sudah meninggal.

“Jadi orang zaman dulu juga menyiapkan untuk anaknya yang sudah meninggal. Kalau Lebaran kan biasanya pada pulang,” katanya.

Sebab di dunia lain, konon lepet ini jadi sejenis mainan. Jika tidak disediakan, anak-anak tersebut akan bersedih.

“Kasihan, nanti (arwah) anak-anak yang lain pada punya kok anak kita nggak punya. Melaske nanti nangis,” tambahnya.

Namun Sri menyimpulkan jika berbagai mitos itu sebetulnya bisa dimaknai dengan maksud lain. Yakni sebagai bentuk doa, bagi anggota keluarga yang sudah meninggal.

“Orang tua zaman dulu kan bentuk pengungkapannya beda-beda. Jadilah ada mitos seperti itu,” pungkasnya. (Vedyana)

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

X